Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

Sobat Teras,

Setelah sobat teras sudah mempelajari bahwasanya dalam kehidupan masayrakat kita ada nilai dan norma social. Nilai dan norma social supaya dapat dijalankan dengan baik maka perlu adanya sosialisasi terhadap individu masayrakat. Sosialisasi ini berperan sangat penting dalam mencapai keberhasilan individu untuk berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Lalu apa itu sosialisasi ? dan apa pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian ? yuk sobat teras simak mater pembelajaran Sosialisasi dan Pembentukan kepribadiaan di bawah ini…

Hakikat Sosialisasi

Dalam sosiologi, penanaman atau proses belajar kebiasaan-kebiasaan di dalam suatu kelompok atau masyarakat disebut sosialisasi. Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan atau norma dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Menurut sejumlah sosiolog, hal yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah peran, yaitu bagaimana seseorang berperan sesuai dengan nilai, kebiasaan, dan norma yang berlaku dalam masyarakat atau kelompoknya. Sementara itu, beberapa tokoh lain mengemukakan bahwa yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah nilai dan norma sosial. Oleh sebab itu, teori sosialisasi dari sejumlah tokoh sosiologi merupakan teori peran (role theory).

Proses sosialisasi dan pembentukan kepribadian

Kepribadian merupakan kumpulan kebiasaan, sifat, sikap, dan ide-ide dari seorang individu yang berpola dan berkaitan secara eksternal dengan peran dan status, dan secara internal dengan motivasi dan tujuan pribadi serta dan berbagai aspek kedirian lainnya. Kepribadian adalah produk dari interaksi sosial dalam kehidupan kelompok.

Baca Juga : NILAI DAN NORMA SOSIAL

Menurut Jhon Milton Yinger, kepribadian adalah keseluruhan perilaku seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Sistem kecenderungan di sini menyatakan bahwa setiap orang memiliki cara berperilaku yang khas, seperti sikap, bakat, adat, kecakapan, kebiasaan dan tindakan yang sama setiap hari.

Dalam sosiologi, istilah kepribadian dikenal dengan sebutan diri (self). Sosialisasi bertujuan membentuk diri seseorang agar dapat bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang dianut oleh masyarakat dilingkungan tempat tinggalnya.

Menurut George Herbert Mead dalam bukunya Mind, self, and Society, ketika lahir, manusia belum memiliki diri (self). Diri manusia berkembang tahap demi tahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain, hal tersebut dikenal dengan proses pengambilan peran (role taking), yaitu:

  • Tahap Play Stage (tahap bermain peran) memainkan peran-peran orang dewasa disekelilingnya.
  • Tahap Game Stage (tahap siap bertindak) menempatkan pada posisi orang lain dan kemampuannya dalam bermain bersama-sama atau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang terorganisir.
  • Tahap Generalized Other (penerimaan norma kolektif)

Charles Horton Cooley menyatakan bahwa konsep diri seseorang berkembang melalui interaksi dengan orang lain. Diri seseorang adalah produk sosial, yaitu produk dari interaksi sosial. Lebih lanjut, Cooley menyatakan bahwa diri seseorang memantulkan hal yang dirasakan sebagai tanggapan masyarakat terhadapnya. Cooley menyebut diri seseorang yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini sebagai looking-glass self.

Cooley menganalogikan pembentukan diri seseorang dengan cermin. Cermin selalu memantulkan apa yang ada di depannya. Demikian pula dengan diri seseorang, ia memantulkan sesuatu yang dirasakannya sebagai tanggapan masyarakat terhadap dirinya. Oleh karena itu, Cooley menyebutkan bahwa looking- glass self (pembentukan cermin diri) terbentuk melalui tiga tahap.

  • Seseorang membayangkan bagaimana perilaku atau tindakannya tampak bagi orang lain
  • Seseorang membayangkan bagaimana orang lain menilai perilaku atau tindakan itu
  • Seseorang membangun konsepsi diri berdasarkan asumsi penilaian orang lain terhadap dirinya

Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian

Setiap orang mempunyai kepribadian. Hanya saja, tiap kepribadian berbeda satu sama lain. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu warisan biologis, lingkungan fisik, kebudayaan, pengalaman kelompok, dan pengalaman unik seseorang.

Warisan Biologis

Faktor keturunan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Warisan biologis menyediakan bahan mentah kepribadian yang dapat dibentuk dalam berbagai cara, misal badan yang tegap diharapkan dapat selalu memimpin, atau IQ (tingkat kecerdasan anak) akan lebih mirip dengan IQ orang tua kandungnya.

Lingkungan Fisik

Ellsworth Hutington menekankan bahwa perbedaan perilaku kelompok disebabkan oleh perbedaan iklim, topografi (permukaan atau relief bumi), dan sumber alam. Orang yang hidup di daerah pegunungan akan berbeda kepribadiannya dengan orang yang hidup di tepi pantai. Halnya orang yang hidup di daerah panas dan miskin cenderung berbeda kepribadiannya dengan orang di daerah subur dan kaya.

Kebudayaan

Kebudayaan berperan dalam membentuk kepribadian seseorang dan masyarakatnya. Di mana setiap kebudayaan tentunya akan menyediakan seperangkat norma dan nilai yang berbeda dari satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Baca Juga : PENGENDALIAN SOSIAL

Pengalaman Kelompok

Setiap kelompok akan menyediakan standar atau ukuran moral yang berbeda-beda. Pengalaman kelompok dalam hal ini disebut juga referensi grup (kelompok acuan)

Pengalaman Unik

Pengalaman yang berbeda dari setiap orang akan membentuk kepribadian yang berbeda. Maksud dari

Agen – Agen Sosialisasi

Dalam sosiologi, pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi disebut sebagai agen atau media sosialisasi. Fuller dan Jacobs mengidentifikasikan empat agen sosialisasi utama, yaitu :

  • Keluarga, pada masa awal kehidupan seseorang, agen sosialisasi terdiri atas orang tua saudara kandungnya. Namun dalam masyarakat yang mengenal sistem keluarga luas (extended family), agen sosialisasi tidak hanya kedua orang tua dan saudara kandung saja, tetapi juga paman, bibi, kakek, dan nenek. Getrude Jaeger mengemukakan bahwa peran agen sosialisasi pada tahap awal (primer), terutama peran orang tua sangat penting.
  • Kelompok Sebaya atau Sepermainan (Peer Group)
  • Sekolah

Media Massa, media massa terdiri dari media cetak (surat kabar atau majalah) dan media elektronik (radio, tv, internet, film, kaset, CD).

Bentuk Sosialisasi

  • Sosialisasi Primer, sosialisasi pada tahap awal kehidupan seseorang sebagai manusia. Sosialisasi primer dipelajari dalam keluarga.
  • Sosialisasi Sekunder, proses berikutnya yang memperkenalkan individu ke dalam lingkungan di luar keluarganya, seperti sekolah, lingkungan bermain, dan lingkungan kerja.

Tipe Sosialisasi

  • Formal, sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam Negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer
  • Informal, sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti pergaulan sesama teman, sahabat, anggota klub, dan kelompok-kelompok

Pola Sosialisasi

  • Sosialisasi Represif, menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan anak pada orang tua. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi pada keinginan orang tua.
  • Sosialisasi Partisipatoris (participatory sosialization) merupakan pola dengan ciri pemberian imbalan ketika anak berperilaku baik. Hukuman dan imbalan bersifat simbolik.

Baca Juga : NILAI DAN NORMA SOSIAL

Sumber :

Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2016. Sosiologi; Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial; untuk SMA/MA Kelas X. Esis Erlangga. Jakarta