RESOLUSI KONFLIK

Sobat Teras,

Kita tahu bahwasanya konflik merupakan gejala sosial yang senantiasa melekat dalam kehidupan setiap masyarakat. Sebagai gejala sosial, konflik hanya akan hilang bersama hilangnya masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, yang dapat kita lakukan adalah mengendalikan agar konflik tersebut tidak berkembang menjadi kekerasan (violence).

Ada tiga syarat agar sebuah konflik tidak berakhir dengan kekerasan. Ketiga syarat tersebut adalah sebagai berikut.

  • Setiap kelompok yang terlibat dalam konflik harus menyadari adanya situasi konflik di antara mereka.
  • Pengendalian konflik-konflik tersebut hanya mungkin bisa dilakukan apabila berbagai kekuatan sosial yang saling bertentangan terorganisasi dengan jelas.
  • Setiap kelompok yang terlibat dalam konflik harus mematuhi aturan main yang telah disepakati bersama.

Pada umumnya, masyarakat memiliki sarana atau mekanisme untuk mengendalikan konflik di dalam tubuhnya. Beberapa sosiolog menyebutnya sebagai katup penyelamat (safety valve), yaitu suatu mekanisme khusus yang dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik.

Baca Juga : PEMETAAN KONFLIK

Lewis A. Coser melihat katup penyelamat itu sebagai jalan keluar yang meredakan permusuhan antara dua pihak yang berlawanan. Katup tersebut membiarkan luapan permusuhan tersalur tanpa menghancurkan seluruh struktur. Katup penyelamat itu menyediakan objek-objek tertentu yang dapat mengalihkan perhatian pihak-pihak yang bertikai agar tersalur ke arah lain. Namun, katup tersebut hanya merupakan sarana yang bersifat sementara. Tujuan utamanya adalah untuk menetralkan ketegangan-ketegangan yang timbul dari situasi pertentangan.

Secara umum, ada beberapa macam bentuk pengendalian konflik sosial, yaitu konsiliasi, mediasi, arbitrasi, dan transformasi konflik.

Konsiliasi

Bentuk pengendalian konflik seperti ini dilakukan melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan diskusi dan pengambilan keputusan yang adil di antara pihak-pihak yang bertikai. Contoh bentuk pengendalian konflik ini adalah lembaga perwakilan rakyat.

Mediasi

Pengendalian konflik dengan cara mediasi dilakukan apabila kedua pihak yang berkonflik sepakat untuk menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Pihak ketiga ini akan memberikan pemikiran atau nasihat- nasihatnya tentang cara terbaik dalam menyelesaikan pertentangan mereka.

Arbitrasi

Arbitrasi atau perwasitan umumnya dilakukan apabila kedua belah pihak yang berkonflik sepakat untuk menerima atau terpaksa menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik.

Baca Juga : Akar Masalah dan Dampak Terjadinya Konflik

Transformasi Konflik

Transformasi konflik (conflict transformation) adalah proses menanggulangi berbagai permasalahan, sumber-sumber, dan dampak negatif dari konflik. Proses transformasi konflik ini dapat dilihat dari beberapa bentuk intervensi konflik. Intervensi konflik adalah masuk ke dalam sistem hubungan yang sedang berlangsung dan melakukan kontak dengan kedua belah pihak atau beberapa pihak yang berkonflik untuk membantu mereka menyelesaikan konflik. Bentuk dan tingkatan intervensi konflik tersebut antara lain sebagai berikut.

  • Menciptakan perdamaian (peace making), yaitu melakukan intervensi militer dengan cara diplomatik untuk mengakhiri konflik.
  • Menjaga perdamaian (peace keeping), yaitu melakukan intervensi militer agar pihak yang sudah tidak bertikai tidak melakukan aksi kekerasan kembali.
  • Pengelolaan konflik (conflict management), yaitu menciptakan berbagai usaha untuk menyelesaikan masalah dengan melibatkan berbagai pihak.
  • Pembangunan perdamaian (peace building), yaitu meningkatkan kesejahteraan, pembangunan infrastruktur, dan rekonsiliasi seluruh pihak yang bertikai.

Selain sarana atau mekanisme yang telah dipaparkan sebelumnya, menurut Georg Simmel, terdapat beberapa cara lain untuk menghentikan konflik, yaitu sebagai berikut.

  • Kemenangan salah satu pihak atas pihak lainnya
  • Kompromi atau perundingan di antara pihak-pihak yang bertikai sehingga tidak ada pihak yang sepenuhnya menang dan tidak ada pihak yang merasa kalah
  • Rekonsiliasi antara pihak-pihak yang bertikai
  • Saling memaafkan atau salah satu pihak memaafkan pihak yang lain
  • Kesepakatan untuk tidak berkonflik

Baca Juga : KONFLIK, KEKERASAN DAN PERDAMAIAN

Berikut ini adalah beberapa cara yang lain atau pemecahan konflik dengan bermacam-macam pendekatan.

  • Kompromi atau mengambil jalan tengah dari persoalan yang sedang dipertengkarkan
  • Memberikan perhatian pada salah satu pihak yang berkonflik
  • Menggunakan orang ketiga di luar pihak yang sedang berkonflik
  • Menggunakan aturan yang ketat

Sumber

Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2017. Sosiologi; Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial; untuk SMA/MA Kelas XI. Esis Erlangga. Jakarta