PENYIMPANGAN SOSIAL

Sobat Teras,

Dalam kehidupan masyarakat, individu/kelompok yang tidak bisa menjadikan nilai dan norma dalam pedoman bertingkah laku dapat menyebabkan perilaku menyimpang dan tidak diharapkan oleh masayrakat. Karena perilaku menyimpang menjadikan kondisi masyarakat tidak seimbang. Lalu apakah Perilaku menyimpang itu ? mari sobat teras menyimak materi pembelajaran di bawah ini.

Konformitas

Proses sosialisasi menghasilkan konformitas. Menurut John M. Shepard, konformitas merupakan bentuk interaksi ketika seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat tempat tinggalnya. Konformitas berarti proses penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara menaati norma dan nilai yang dianut masyarakat. Sementara itu, perilaku yang menyimpang atau tidak sesuai dengan norma dan nilai dalam masyarakat disebut sebagai perilaku nonkonformis atau perilaku menyimpang (deviant behavior).

Baca Juga : PENGENDALIAN SOSIAL

Perilaku Menyimpang Pengertian Perilaku Menyimpang

Suatu perilaku dikatakan menyimpang apabila tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Contohnya, menyontek, melakukan tawuran, merampok, mencuri, membunuh, menganiaya, menculik, menggunakan narkoba, atau melakukan korupsi. Dalam skala yang lebih kecil, perilaku menyimpang juga termasuk pelanggaran terhadap kebiasaan atau kepantasan, seperti siswa yang bolos sekolah atau pemuda yang mabuk-mabukan. Menurut para sosiolog, penyimpangan bukan sesuatu yang melekat pada bentuk perilaku tertentu, melainkan diberi ciri penyimpangan melalui definisi sosial. Definisi tersebut dapat bersumber dari kelompok yang berkuasa dalam masyarakat atau dari masyarakat umum.

Teori-teori Perilaku Menyimpang

Edwin H. Sutherland

Mengemukakan sebuah teori yang dinamakannya differential association theory. Menurutnya, penyimpangan bersumber pada pergaulan dengan orang yang berperilaku menyimpang. Penyimpangan dipelajari melalui proses alih budaya. Melalui proses belajar ini, seseorang mempelajari suatu budaya menyimpang.

Edwin M. Lemert

Lemert menamakan teorinya labelling theory. Menurut Lemert, seseorang menjadi penyimpang (deviant) karena proses labelisasi (pemberian julukan atau cap) oleh masyarakat terhadap orang tersebut. Selanjutnya Lemert mengembangkan gagasan tentang penyimpangan primer dan sekunder untuk menjelaskan proses pelabelan.

  • Penyimpangan primer, yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan seseorang namun pelakunya masih dapat diterima secara sosial. Cirinya, sifatnya sementara, tidak berulang, dan dapat ditolerir masyarakat.
  • Penyimpangan sekunder, yaitu perilaku menyimpang yang tidak dapat ditolerir masyarakat. Penyimpangan tersebut dilakukan oleh seseorang secara berulang-ulang dan terus-menerus.

Robert K. Merton

Merton melihat perilaku menyimpang dari sudut pandang yang lebih luas (makro), yaitu struktur sosial. Menurut Merton, struktur sosial tidak hanya menghasilkan konformitas, tapi juga perilaku menyimpang. Struktur sosial menghasilkan pelanggaran terhadap aturan sosial dan menekan orang tertentu ke arah perilaku nonkonformis.

Baca Juga : NILAI DAN NORMA SOSIAL

Dalam struktur sosial dan budaya, ada tujuan atau sasaran budaya yang disepakati oleh anggota masyarakat. Tujuan budaya adalah sesuatu yang “pantas diraih”. Untuk mencapai tujuan tersebut, struktur sosial dan budaya mengatur cara yang harus ditempuh dan aturan ini bersifat membatasi. Merton menyatakan bahwa perilaku menyimpang terjadi karena tidak adanya kaitan antara tujuan dengan cara yang telah ditetapkan dan dibenarkan oleh struktur sosial.

Lebih jauh, Merton mengidentifikasi lima tipe cara adaptasi individu terhadap situasi tertentu. Empat dari lima tipe tersebut merupakan perilaku menyimpang.

Konformitas, perilaku seseorang mengikuti cara dan tujuan yang telah ditetapkan masyarakat.

  1. Inovasi (innovation), mengikuti tujuan dengan cara yang dilarang masyarakat
  2. Ritualisme (ritualism), meninggalkan tujuan budaya, tetapi tetap berpegang pada cara yang telah ditetapkan masyarakat
  3. Retretisme (retreatism), tidak mengikuti tujuan dan cara yang ditetapkan masyarakat
  4. Pemberontakan (rebellion), tidak lagi mengikuti struktur sosial yang ada dan berupaya menciptakan struktur sosial yang baru

Emile Durkheim

Durkheim berpendapat bahwa orang yang berwatak jahat akan selalu ada dan kejahatan pun akan selalu ada. Dia bahkan berpandangan bahwa kejahatan diperlukan oleh masyarakat, karena dengan adanya kejahatan maka moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal

Karl Marx

Teori Marx dikenal dengan sebutan teori konflik. Menurut Marx, perilaku menyimpang merupakan perilaku yang didefinisikan atau dibentuk oleh pihak yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Menurutnya, hukum merupakan cerminan kepentingan pihak yang berkuasa dan pengadilan hanya menguntungkan pihak tersebut.

David Berry

Penyimpangan tidak hanya semata-mata disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Tetapi juga karena orang tersebut memiliki standar yang berbeda dengan orang

Baca Juga : Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

Hubungan Antara Perilaku Menyimpang dan Sosialisasi yang Tidak Sempurna

Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari tentang pelaku-pelaku sosialisasi, seperti keluarga, sekolah, teman sepermainan, dan media massa (cetak elektronik). Setiap pelaku sosialisasi mempunyai fungsi masing-masing yang seharusnya saling melengkapi. Namun pada kenyataannya, sering terjadi ketidaksepadanan antara pesan yang disampaikan pelaku sosialisasi yang satu dengan pelaku sosialisasi yang lain. Hal ini menjadikan proses sosialisasi kurang sempurna.

Macam-macam Perilaku Menyimpang

Tindakan Kriminal atau Kejahatan

Tindakan kriminal atau kejahatan bertentangan dengan norma hukum, norma sosial, dan norma agama yang berlaku di masyarakat. Contoh tindakan kriminal (delik) antara lain adalah pencurian, penganiayaan, pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, dan perampokan. Tindakan kejahatan umumnya mengakibatkan pihak lain kehilangan harta benda, cacat tubuh, bahkan kehilangan nyawa. Tindakan kejahatan mencakup pula semua kegiatan yang dapat mengganggu keamanan dan kestabilan Negara seperti korupsi, makar, subversi, dan terorisme.

Donald Light, Suzanne Infeld Keller, dan Craig J. Calhoun membedakan kejahatan menjadi empat tipe, yaitu:

  1. Kejahatan tanpa korban (crime without victim), kejahatan jenis ini tidak mengakibatkan penderitaan pada korban akibat tindak pidana orang lain. Contoh, berjudi, mengonsumsi narkoba, mabuk-mabukan, dan perilaku seks bebas
  2. Kejahatan terorganisir (organized crime), pelaku kejahatan jenis ini merupakan komplotan yang secara berkesinambungan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang atau kekuasaan dengan menghindari hukum. Contoh, komplotan koruptor, pelacuran, perjudian illegal, penadah barang curian, atau peminjaman uang dengan bunga tinggi (rentenir)
  3. Kejahatan kerah putih (white collar crime), merupakan tipe kejahatan yang dilakukan oleh orang terpandang atau orang yang berstatus tinggi dalam pekerjaannya
  4. Kejahatan korporat (corporate crime), kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi dengan tujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian. Contoh, perusahaan yang membuang limbah ke sungai

Penyimpangan Seksual

Adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan.

  1. Perzinaan, hubungan seksual di luar nikah
  2. Lesbianism, hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama wanita
  3. Homoseks, hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama laki-laki
  4. Kumpul kebo, tinggal bersama seperti suami istri tanpa hubungan pernikahan
  5. Transvestitisme, memuaskan keinginan seks dengan mengenakan pakaian lawan jenis
  6. Sodomi, hubungan seks melalui anus
  7. Sadism, pemuasan seks dengan menyakiti orang lain
  8. Pedofilia, memuaskan keinginan seks melalui hubungan seksual dengan anak-anak

Pemakaian dan Pengedar Obat terlarang

Yakni menggunakan obat-obat yang terlarang seperti narkotika, minuman keras, ganja dan lain halnya yang dilarang oleh undang-undang.

Penyimpangan dalam Bentuk Gaya Hidup

Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup yang berbeda dari biasanya antara lain sikap arogan dan eksentrik.

 

Sumber :

Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2016. Sosiologi; Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial; untuk SMA/MA Kelas X. Esis Erlangga. Jakarta