SUMPAH PEMUDA DAN RAGAM BUDAYA DI INDONESIA

Selamat datang di bulan Oktober, pada bulan ini ada 2 momen bersejarah di Indonesia yang pertama merupakan hari Hari Kesaktian Pancasila dan yang kedua adalah hari Sumpah Pemuda. Kesaktian Pancasila memiliki latar belakang sejarah adanya gerakan 30 S PKI, sedang sumpah pemuda memiliki latar belakang belakang sejarah pluralisme di Indonesia. Pada tahun 1965 Indonesia mengalami sebuah peristiwa yang mengakibatkan meninggalnya beberapa jendral TNI yang mana dari kejadian tersebut lahirlah peringatan kesaktian pancasila sebagai hari peringatan “kemenangan ideologi non-pancasilais”. Maka untuk Sumpah Pemuda, diwaktu itu justru terjadi sebelum Indonesia merdeka.

Berangkat dari sejarah, Indonesia sejak dahulu kala memiliki keberagaman kebudayaan, hal ini dibuktikan dengan adanya banyaknya bahasa di berbagai wilayah Indonesia diwaktu itu. Adanya Jong Java, Jong Ambon, Jong Jong Minahasa dan Jong Celebes dan lain-lain merupakan bentuk bahwa Indonesia memiliki keberagaman budaya, Dan dari keberagaman tersebut, sumpah pemuda merupakan tanda adanya keberagaman budaya dapat bersatu atas nama persatuan Indonesia. Konsensus (kesepakatan) yang mengakui persatuan Indonesia diatas perbedaan tanah, bangsa, dan bahasa inilah yang 17 tahun kemudian melahirkan gagasan Bhineka Tunggal Ika dan kemerdekaan Republik Indonesia.

Secara antropologis kebudayaan menurut Irwan Abdullah, hampir selalu terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Budaya Jawa sebagai contoh, selalu dikaitkan dengan suatu tradisi yang berkembang di Pulau Jawa. Oleh karena itu, batas geografis biasanya dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaan lokal. Jika dilihat dari sejarah, pernyataan Irwan Abdullah sangat relevan pada kejadian yang disebut sebagai “ikrar cikal bakal perjuangan bangsa Indonesia pada 1928” . Yang mana ikrar tersebut merupakan pengakuan atas terikatnya kebudayaan dengan batas fisik dan geografis menjadi pemisah budaya-budaya yang berbeda. Sebagai contoh, terdapat Jong Celebes yang menghimpun para pemuda pelajar yang berasal dari Selebes atau Pulau Sulawesi. Sekar Rukun yang merupakan perkumpulan pemuda dari daerah Sunda, Jong Bataks Bond merupakan perkumpulan pemuda dari daerah Batak, dsb. Dapat dikatakan bahwa diwaktu itu, pemuda (Jong) terhimpun berdasarkan batas fisik dan geografis yang jelas. Dimana pemuda tersebut tinggal, atau berasal disitulah pemuda tersebut tergabung menjadi anggota perkumpulan pemuda (Jong) tertentu.

Lebih lanjut lagi, keterikatan batas fisik dan geografis dapat memudar, sebagai contoh dalam proses perubahan sosial budaya. Pada perubahan sosial budaya muncul kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan. Hal itu dipengaruhi oleh faktor percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi secara global sehingga tidak ada budaya lokal suatu kelompok masyarakat yang masih sedemikian asli. Jika dilihat dari peristiwa sumpah pemuda, ikrar untuk mengakui tanah, bangsa, dan bahasa satu yaitu Indonesia, perubahan sosial yang terjadi yaitu perubahan yang mengharapkan Indonesia merdeka dengan menyatukan semangat pengakuan tanah, bangsa, dan bahasa, namun disisi lain setelah kemerdekaan berjalan, tidak sedikit budaya yang dalam hal ini secara khusus adalah bahasa, banyak yang punah karena percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi yang menggunakan bahasa Indonesia, sehingga bahasa daerah minim digunakan dan akhirnya hilang. Hasil kajian kebahasaan yang dilakukan oleh Badan Bahasa setiap tahunnya menunjukkan adanya kekhawatiran besar yang melanda bangsa ini, yakni terdapat 25 bahasa yang terancam punah, 6 bahasa yang kritis, dan 11 bahasa yang telah punah. Berlatar belakang dari fenomena tersebut, sumpah pemuda merupakan peristiwa yang sebaiknya dimaknai sebagai momentum persatuan dan dijadikan sebagai momentum pemeliharaan warisan perbedaan budaya bangsa yang bersatu dan wajib dilestarikan keberagamannya.

Salam,