PAULO FREIRE DAN KONSEP PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN

Selain John Dewey dengan konsep Learning by doing, Edward Lee Thorndike dengan konsep Koneksionisme, Ivan Pavlov dengan konsep pengkondisian klasik, terdapat konsep pendidikan yang lebih dekat dengan masyarakat. Konsep pendidikan tersebut merupakan konsep pendidikan hadap masalah (prombelm-posing education) yang menolak pendidikan gaya bank. Konsep pendidikan ini dicetuskan oleh Paulo Freire.

Konsep pendidikan hadap masalah memiliki harapan memanusiakan manusia dengan pendidikan melalui penghapusan istilah yang mendidik dan yang dididik. Menurut konsep pendidikan hadap masalah versi Paulo Freire, semua adalah pembelajar, tidak ada subjek dan objek dari transmisi pengetahuan, semua pihak adalah subjek yang dan disatukan oleh objek yang sama. Konsep pendidikan hadap masalah merupakan konsep pendidikan yang menolah gaya bank, yang mana konspe pendidikan gaya bank memiliki ciri khas, pendidik (yang mendidik) hanya memberikan pengetahuan kepada pembelajar (yang dididik), tanpa adanya komunikasi 2 arah. Sehingga posisi si pebelajar seperti bejana yang hanya mampu menerima pengetahuan. Berlatar belakang dari konsep tersebut, Paulo Freire menolak pendidikan gaya bank, dan memberikan sistem pendidikan baru yang bernama pendidikan hadap masalah. Hal ini seperti yang dituliskan pada buku PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS (2016: XXI) bahwa, Paulo Freire ingin merontokkan pendidikan “sistem bank”. Sebagai alternatif, Freire menciptakan sistem baru yang dinamakan “problem-posing education” atau “pendidikan hadap masalah” yang memungkinkan konsientisasi. Dalam konsientisasi, guru dan murid bersama-sama menjadi subyek dan disatukan oleh obyek yang sama. Tidak ada lagi yang memikirkan dan yang tinggal menelan, tetapi mereka berpikir bersama. Pengetahuan yang sejati menuntut penemuan dan penemuan kembali melalui penyelidikan terus-menerus atas dunia, dengan dunia dan dengan sesama. Guru dan murid harus secara serempak menjadi murid dan guru. Dialog merupakan unsur sangat penting dalam pendidikan.

Pada konsep pembelajaran hadap masalah ini, terdapat beberapa keyword untuk mewujudkan pendidikan yang memanusiakan, keyword tersebut yaitu kaum penindas, kaum tertindas, tabungan pengetahuan, dialogis, kodifikasi teks, intensional. Kaum penindas biasa dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan, sedang kaum tertindas merupakan orang yang pengetahuannya tidak sebanyak kaum penindas. Pada pendidikan hadap masalah, diposisikan tidak ada penindasan pada proses pendidikan, pembelajar (yang dididik) diberikan ruang untuk mengemukakan apa yang ingin mereka pelajari, apa yang mereka butuhkan untuk dipecahkan melalui pendidikan sesuai dengan intensional (kesadaran atas kesadaran) akan kebutuhan mereka. Hal ini berbeda dengan pendidikan gaya bank yang menempatkan bahwa pendidik (yang mendidik) adalah pusat dari proses pendidikan, sehingga pendidik bebas menentukan apa yang akan dipelajari, sedangkan sang pembelajar hanya menerima pengetahuan dari sang pendidik.

Selanjutnya tentang konsep dialogis, kodifikasi teks, intensional, pada pembelajaran pendidikan hadap masalah, semuanya adalah pembelajar, yang mana proses dialog 2 arah memiliki peran yang sangat penting karena pada tahap tersebut, baik pendidik dan pembelajar bertukar gagasan terkait dengan apa yang akan dipelajari, bagaimana proses pembelajaran, dan apa yang selanjutnya akan mereka pelajari. Melalui kodifikasi teks, baik pendidik, dan pembelajar sama-sama melakukan 2 proses pembelajaran hanya saja konteks yang melekat akan berbeda. Sedang intensional menurut Paulo Freire merupakan hakikat dari kesadaran yang akan menolak pernyataan-pernyataan dan mewujudkan komunikasi (2016: XXI).

Setelah mengetahui konsep pendidikan hadap masalah, terdapat pula konsep pemikiran Ivan Illich yang menolak adanya Sekolah untuk pendidikan di masyarakat. Menurutnya tujuan pendidikan secara ontologis telah menjauh dari harapan, sehingga sekolah bukanlah jawaban dari tujuan pendidikan yang menurutnya, dapat menjadi agen perubahan sosial kultural masyarkat modern, memberi kesempatan semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat, memungkinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dapat dengan mudah melakukannya, demikian pula bagi yang ingin mendapatkannya, menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan pendidikan (lllich, 1982: 99-100)

Namun, pemikiran baik Ivan Illich maupun Paulo Freire, merupakan pemikiran yang tumbuh dan berkembang diluar Indonesia, jika kita ingin mengadopsinya, perlu adanya penyesuaian konteks baik secara sejarah, kebutuhan pendidikan di Indonesia dan konteks budaya.

LITERATUR

Freire, P. (2007). Politik pendidikan: Kebudayaan, kekuasaan, dan pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Freire, P. (2016). Pendidikan Kaum Tertindas. LP3ES.