Pendidikan Kritis : Menekankan pada How To Think dari pada What To Think !

“Kesadaran kritis tidak dapat di cangkokan, tapi dibangun lewat kesadaran peserta didik.”

Perlu kita ketahui membangun kesadaran kritis memang tidaklah mudah. Hal ini menjadi momok yang harus selalu di tekankan pada konsep penididikan kita. Perencanaan dan wacana mengenai menggali potensi kritis peserta didik sudah di lakukan pada sistem pendidikan dengan membuat sebuah kurikulum yang mengatur konsep pembelajaran terhadap peserta didik. Tentunya hal ini menjadi sebuah proses menuju arah yang positif dengan adanya perubahan mendasar pada sistem kurikulum lama hingga menjadi kurikulum terbaru yakni kurikulum 2013 revisi. Yang pada intinya , kurikulum yang mampu menggali kesadaran kritis terhadap peserta didik.

Pada kesempatan kali ini , untuk melihat kesadaran kritis peserta didik saya akan melihat konsep dasar bagaimana pendidikan kritis dari persepektif Mahzab Frankfrut, Paulo Freire, dan Antonio Gramsci. Kita sudah tau bahwa ketiganya menjadi rujukan yang relevan di dunia barat dalam mengkaji sebuah pendidikan kritis. “Kritik” menjadi bahasa yang sangat melekat dalam pembahasan pendidikan kritis oleh tiga sumber yang menjadi acuan utama tulisan ini.

Dalam penidikan kritis, yang di tekankan dalam pembelajaran adalah bagaimana memahami, mengkritik, memproduksi , dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memahami realitas hidup dan mengubahnya. Metode yang dipakai adalah kodifikasi dan dekodifikasi. Kodifikasi mengacu pada proses mempresentasikan fakta yang di ambil dari kehidupan peserta didik dan kemudian memasalahkannya (problematizing). Sedangkan dekodifikasi adalah proses pembacaan atas fakta-fakta tersebut melalui dua metode : deskriptif dan analitis. Tahap deskriptif digunakan untuk memahami  “surface structure” , sedangkan tahap analitis digunakan untuk memahami “deep structure”. Dua kategori itulah yang digunakan sebagai alat analisis untuk memahami relasi-relasi dalam membentuk realitas kehidupan masyarkaat yang mampu di jadikan pembelajaran dalam pendidikan kita.

Lalu, bagaimana cara membangun pendidikan kritis dalam proses pembelajaran di dunia pendidikan kita ? Pada intinya, proses pembelajaran dalam pendidikan kritis lebih menekankan how to think dari pada what to think . Penekanan pada aspek what to think atau materi pelajaran itu penting, tetapi proses atau metodelogi (how to think) untuk mendekati materi itu lebih penting. Dengan demikian proses berpikir, berdebat , berargumentasi, mengapresiasi pendapat orang lain selama masa pembelajaran jauh lebih penting dari pada materi pelajaran itu sendiri. Karena dalam proses itulah akan terjadi kritisme , sharing idea, saling menghargai dan assessment terhadap pengetahuan. Proses-proses ini merupakan wahana pembelajaran yang sangat demokratis di kelas. Pengetahuan yang di dapat di kelas dengan demikian bukanlah pengetahuan yang di dapat secara instan dan siap pakai, tetapi telah mengalami proses seleksi dan refleksi bersama antara guru dan peserta didik. Peserta didik diajak untuk selalu mempertanyakan pengetahuan yang ada, baik yang ada dalam teks atau yang disampaiakan oleh guru. Hal ini juga sejalan dengan pandangan Paulo Freire bahwa pengetahuan tidak dianggap sebagai entitas independen yang lepas dari proses pembentuknya, melainkan entitas yang terkonstruksi melalui proses tertentu yang tidak bebas nilai. Dan pada akhirnya pengetahuan harus di letakan di atas meja kritis untuk di dekonstruksi dan di rekonstruksi antara guru dan peserta didik. Disinilah guru dan peserta didik terlibat bersama dalam knowledge production.

Pada akhirnya, knownledge production ini syukurnya sudah menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam sistem pembelajaran kita. Dengan menggunakan kurikulum 2013 revisi, dunia pendidikan kita menekankan pada metode dan model pembelajaran yang mampu menumbuhkan sikap kritis terhadap peserta didik. Seperti problem based learning, discovery learning, project based learning, an inquiry. Hal ini menjadi model yang bisa dipakai oleh guru untuk menumbuhkan kesadaran kritis peserta didik di sekolah. Dan besar harapan mampu menciptakan generasi peserta didik yang kuat dan kritis terhadap berbagai persoalan yang di hadapi dalam kehidupan di masa sekarang maupun masa akan datang.

Salam,

Teras Sos