BUDAYA BAHASA ISYARAT DI TELEVISI

Hildred Geertz (1981) dalam bukunya Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia, di Indonesia saat terdapat lebih 300 dari suku bangsa yang berbicara dalam 250 bahasa yang berbeda dan memiliki karakteristik budaya lokal yang berbeda pula. Namun, selain bahasa lisan, terdapat beberapa masyarakat yang memiliki keterbatasan untuk berkomunikasi dan memahami bahasa secara lisan, beberapa kelompok masyarakat tersebut yaitu kelompok masyarakat tuli. Kemenkes menjelaskan bahwa tuli atau kehilangan pendegaran adalah gangguan dimana seseorang tidak dapat mendenfar suara secara sebagian atau keseluruhan pada salah satu atau dua telinga. Standart yang di tetapkan oleh WHO adalah apabila seseoarang tidak dapat mendengar lebih dari 40 desibel  (db) pada orang dewasa (usia 15 tahun keatas), dan lebih dari 30 desibel  pada anak-anak (usia 0-14 tahun) (Pusdatin Kemenkes).

Adanya keterbatasan untuk mendengar bahasa lisan tersebut melahirkan adanya budaya baru untuk komunikasi beberapa masyarakat yang mengalami keterbatasan mendengar atau tuli, budaya tersebut berwujud budaya bahasa isyarat. Menurut Badan Bahasa Kemdikbud, di Indonesia sendiri, bahasa isyarat memiliki dua macam bahasa isyarat yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Namun, bagaimana beberapa masyarakat tuli mengkonsumsi tayangan telivisi merupakan hal pokok yang akan dibahas pada artikel ini.

Televisi sebagai media massa memiliki fungsi sebagai media penyalur informasi untuk seluruh konsumen (penonton), baik di kota atupun di desa, baik usia tua maupun muda. Sejak kemunculan TVRI pada 24 Agustus 1962 yang ditandai dengan siaran perdana Asian Games ke IV di Stadion Utama Gelanggang Olah Raga Bung Karno, televisi sebagai media penyalur informasi hanya menyajikan tampilan visual dan audio, sedangkan hal ini menjadi suatu hal yang bersifat diskriminatif pada beberapa masyarakat tuli. Bahas isyarat sendiri baru menjadi bagian tayangan televisi, pada tahun 2007, yaitu dengan adanya peraturan Komisi Penyiaran Indonesia nomor 03 tahun 2007 tentang Standart Program Siaran, Bab XV Program Asing, Bahasa asing bagian ketiga, bahasa Isyarat yaitu Lembaga penyiaran Televisi dapat menggunakan bahasa isyarat dalam program faktual untuk khalayak tuarungu.

Pada akhir desember 2013 Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan satu-satunya televisi penyaran publik yang merealisasikan peraturan dari KPI. Melalui program Berita Indonesia Malam yang ditayangkan setiap hari pukul 19.00 sampai pukul 20.00 WIB, TVRI memberikan fasilitas bagi translator bahasa isyarat untuk menterjemahkan berita ke dalam bahasa isyarat yang dihususkan pada penyandang tunarungu. Lebih uniknya, TVRI mmeberikan 2 bahasa yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) kepada penonton. (Wuri Aryani: 2014)

Perkembangan terakhir, Angkie Yudistia salah satu Staf Khusus Presiden mengumumkan Juru Bahasa Isyarat (JBI) telah tersedia di seluruh televisi. JBI ini bertugas untuk menyampaikan informasi terkait Corona COVID-19 setiap breaking news kepada pemirsa tuli.

Sumber :

Geertz, Hildred. 1981. Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.
https:/pusdatin.kemkesgo.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-tunarungu-2019.pdf diakses pada 5 agustus pukul 2.27 WIB

http:/badanbahasa.kemdikbud.goid/lamanbahasa/node/2402 diakses pada 5 agustus pukul 14.15 WIB

http:/tvri.goid/about diakses pada 5 agustus pukul 14.38 WIB

http:/repository.uinjkt.acid/dspace/bitstream/123456789/37127/1/Wuri%20AryaniPDF diakses pada 15.08 WIB

https:/www.liputan6com/disabilitas/read/4204710/juru-bahasa-isyarat-terkait-corona-covid-19-sudah-tersedia  diakses pada 15.33 WIB