Ritual Kawalu, Tradisi ‘Lockdown’ Milik Masyarakat Adat Baduy

“Ritual Kawalu merupakan tradisi penguncian akses yang mirip dengan prosedur ‘lockdown’. Masyarakat adat Baduy menutup akses masuk ke desa mereka setiap satu tahun sekali untuk memulihkan kondisi alam tempat mereka tinggal.”

Negara-negara di dunia beberapa waktu lalu banyak menerapkan prosedur ‘lockdown’ guna memutus mata rantai menularan wabah virus Corona (COVID-19).

Prosedur pencegahan wabah Virus Corona itu juga sempat diberlakukan secara nasional maupun secara lokal oleh Pemerintah Indonesia. Beberapa istilah yang merujuk kepada posedur penguncian akses masuk maupun akses keluar kemudian menjadi sesuatu yang umum di kehidupan sosial masyarakat.

Sebut saja istilah seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), serta PSBL (Pembatasasn Sosial Berskala Lokal), yang cukup berpengaruh kepada pola hidup dan kebiasaan masyarakat Indonesia.

Namun prosedur penutupan akses ini ternyata bukan hal yang baru bagi masyarakat adat Baduy di Desa Kenekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Suku Baduy sendiri dikenal sebagai masyarakat adat yang tetap teguh memegang nilai-nilai tradisi dan budaya secara turun temurun dari masa ke masa. 

Mereka nerapkan aturan-aturan adat yang bertujuan untuk menjaga kelestarian alam tempat mereka mencari penghidupan dari bertani, berkebun, berburu, dan beternak.

Salah satu aturan adat mereka yang paling terkenal adalah aturan tentang pelarangan penggunaan barang-barang yang mengandung bahan kimia seperti pasta gigi, sabun, pastik, hingga pupuk kimia.

Hal ini membuat mereka kerap kali mendapat stigma negatif sebagai masyarakat adat yang kolot dan antipati terhadap kemajuan zaman, walaupun sebenarnya peraturan tersebut tetap mereka pertahankan demi menjaga kelestarian alam.

Ketika pemerintah menggalakan prosedur yang mengarah kepada prosedur lockdown, Suku Baduy juga tidak mau ketinggalan. Bedanya peraturan adat mirip prosedur lockdown yang mereka terapkan merupakan tradisi tahunan dengan nama ‘Ritual Kawalu’.

Ritual Kawalu dalam tradisi Suku Baduy diartikan sebagai penutupan diri dari pendatang atau wisatawan yang setiap harinya menyambangi perkampungan mereka, baik mereka yang tinggal di kawasan Baduy Luar maupun Baduy Dalam.

Penutupan akses ini dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan, dimulai sejak tanggal 25 Februari 2020 atau 1 Kawalu Tembey (1 Safar dalam perhitungan kalender Suku Baduy). Biasanya masyarakat adat Suku Baduy akan memberlakukan penutupan akses selama tiga bulan.

Hal ini bertujuan untuk menghindari segala macam penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit non-fisik yang biasanya datang melalui para wisatawan yang keluar masuk ke tanah adat mereka.

Selain itu juga memberikan waktu istirahat bagi alam Baduy untuk memperbaiki kelestarianya setelah beberapa bulan sebelumnya telah menyambut para pendatang dan wisatawan.

Ritual Kawalu sendiri merupakan hari besar bagi masyarakat adat Suku Baduy, dimana pada saat itu mereka akan banyak menggelar upacara adat. Jika akses masuk tidak ditutup dikhawatirkan pengawasan dan pelayanan terhadap para wisatawan tidak akan maksimal.

Dikutip dari BantenNews (12/08/2020) WIB, salah satu tokoh adat Suku Baduy bernama Uday Suhada mengatakan bahwa penutupan akses yang mereka lakukan murni bertujuan untuk memberikan waktu istirahat bagi alam Baduy.

Selain itu, masyarakat adat Suku Baduy pada bulan-bulan Maret – Mei cenderung disibukan dengan beberapa rangkaian upacara adat.

“Tentu ada relevansi secara kebetulan, dari sisi timing (waktu) saat ini kebetulan Kawalu kita kaitkan (dengan) situasi dunia saat ini. Kita bisa ambil teladan dari kearifan lokal Baduy mengenai proteksi komunitas terhadap penyebaran penyakit saat ini,” ungkap Uday Suhada (Pendamping Adat Suku Baduy) dalam sebuah wawancara dengan BantenNews.

“Kalau Kawalu tertutup karena mereka khawatir ketika ada tamu datang tidak bisa menerima dengan baik karena sibuk di lembaga adat,”

“Istilahnya Baduy di-lockdown dari tamu. Ibarat bandara itu ditutup. Mulai dari Ciboleger, Cisimeut, Cibeo, itu bagian upaya mencegah penyebaran virus Covid-19,” jelasnya.

Penjelasan tersebut tentu sedikit banyak menggambarkan bagaimana nenek moyang Suku Baduy telah memiliki aturan-aturan adat terkait penanggulangan dan pencegahan wabah penyakit.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa situasi pandemi di Indonesia tidak hanya terjadi baru-baru ini saja.

Jauh sebelum ini saat Indonesia masih berada dibawah kekuasaan pemerintah kolonoal Belanda, masyarakat kita telah dihadapkan dengan wabah penyakit pes.

Wabah pes telah mewabah di beberapa wilayah di Asia sejak tahun 1800 dan awal 1900. Beberapa negara yang terdampak wabah pes kala itu cukup banyak, diantaranya adalah China, Myanmar, Arab Saudi, dan Indonesia.

Wabah pes di Indonesia pertama kali tercatat muncul pada tahun 1905 di sekitar wilayah perkebunan Deli Sumatra Utara.

Namun kasus luar biasa akibat wabah penyakit yang ditularkan dari kutu tikus itu terjadi di Jawa sejak tahun 1910an.

Kala itu wabah pes menyebar melalui kutu tikus yang terbawa bersama beras impor dari Myanmar. Beras tersebut di impor oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan pangan pada masa paceklik.

Wabah pes total memakan sebanyak dua ribu korban jiwa di Jawa, jumlah yang cukup besar untuk populasi yang masih sedikit pada masanya. (**)