Gaya Hidup Konsumerisme | Paradoks Globalisasi

Sahabat Teras !

Pernahkah kalian membeli suatu barang dengan brand tertentu supaya terlihat lebih keren dan kekinian ? Mungkin juga mencoba makan di restoran/café terentu supaya terlihat eksis  ? Bahkan tak sedikit orang yang berlomba-lomba membeli gadget yang harganya mahal namun tidak melihat sisi kegunaannya, melainkan hanya mengikuti trend perkembangan yang sedaang ramai di kehidupan masyarakat.

Hal ini menjadi wajar di era globalisasi seperti sekarang ini. Didalam budaya kapitalisme global, pandangan dunia dan cara berpikir masyarakat dikonstruksi sedemikian rupa yang mana di dalamnya ada komoditi untuk dijadikan cara untuk membangun perbedaan dan identitas diri didalam hubungan sosial yang lebih luas. Konsumsi di dalam masyrakat kapitalisme global tidak sekedar sarana pemenuhan nilai utilitas dalam pengertian sempit, akan tetapi merupakan cara untuk membangun nilai-nilai simbolik. Konsumsi kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penciptaan gaya hidup yaitu gaya konsumsi yang dimuati dengan nilai tanda dan makna simbolik tertentu yang membentuk apa yang disebut dengan gaya hidup konsumerisme.

Berbicara mengenai kegiatan konsumsi dengan makna-makna simbolik tertentu (prestise, status, kelas) dengan pola dan tempo pengaturan tertentu itulah sebetulnya esensi dari gaya hidup konsumerisme. Gaya hidup yang di topang oleh proses penciptaan diferensi secara terus menerus lewat mekanisme tanda dan citra. Sama halnya seperti budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangbiakannya didorong oleh logika hasrat dan keinginan, ketimbang logika kebutuhan. Misalnya saja seperti fenomena yang sedang ramai dimasa Pandemi Covid 19 ini dengan meunculnya trend gowes di berbagai kalangan masyarkaat. Trend yang sangat bagus ini di sisi lain membawa budaya konsumerisme di era global. Orang beramai-ramai mencari sepeda dengan brand dan harga yang sangat fantastis yang dipesan dari luar negeri. Padahal kalau kita lihat kebutuhan akan gowes yang mendasari orang untuk berolahraga dan sehat tidak memerlukan sepeda dengan harga ratusan juta rupiah. Dan tak perlu harus membeli (impor) brand tertentu karena produk dalam negeri juga banyak yang terjangkau dan tak kalah bagus kualitasnya. Namun, disinilah kita bisa melihat gaya hidup konsumerisme itu di bangun, yang mana manusia menjadi model di dalamnya.

Lebih jauh berbicara mengenai fenomena tersebut, dalam gaya hidup konsumerisme objek-objek konsumsi dijadikan sebagai tempat untuk menyatakan identitas diri, status, dan nilai-nilai simbolik melalui apa yang disebut dengan tanda logika. Seperti dikatakan oleh Jean Baudrillard didalam bukunya Masayrakat Konsumsi …. “konsumsi di masa kini… dilukiskan sebagai panggung yang diatasnya komoditi dengan seketika diproduksi sebagai tanda, nilai tanda, dan yang diatasnya tanda-tanda (budaya) diproduksi sebagai komoditi.” Sekali lagi bisa kita pahami bahwa konsumer dikondisikan untuk lebih merayakan makna-makna simbolik , ketimbang fungsi utilitas objek.

Pada akhirnya, apa yang di sampaiakan penulis mengenai perilaku gaya hidup konsumerisme ini akan dikembalikan pada pribadi orang masing-masing untuk bisa berhenti/mengendalikannya. Tentunya apa yang dilakukan orang untuk membeli segala suatu hal merupakan hak dan pribadi dari masing-masing orang itu sendiri. Perkara membeli hanya melihat sisi kegunaanya atau hanya sekedar membeli simbol (citra, prestise, status, kelas, kekinian dll). Namun ada hal yang perlu kita tekankan pula, bukanlah gaya hidup konsumerisme itu tidak mencontohkan jati diri bangsa kita, bangsa Indonesia tercinta ini ?

Salam,

Teras Sos