Jalan : Ruang Kosong Sebagai Sarana Penunjukan Identitas

Sahabat Teras !

Pernah atau tidak kalian membaca/menyimak sebuah berita baik di media online atau televisi yang menayangkan konvoi sekelompok orang di jalan raya ? Atau berita mengenai sekelompok geng motor, suporter, partai politik atau komunitas motor lainnya yang mampu menguasai jalanan ketika mereka sedang berkendara ?

Dapat kita analisa jalan raya bukan hanya apa yang secara fisik kita lihat sebagai tempat perlintasan. Lebih jauh dari itu jalan bisa digunakan menjadi tempat belantara berbagai kepentingan dan perebutan kekuasaan. Jalan raya memang telah berubah wajah atau justru muncul dengan banyak wajah. Jalan raya tidak hanya menjadi tempat bagi orang-orang yang ingin melintas namun juga menjadi arena berlakunya kuasa. Jalan raya sebagai arena perlintasan yang memiliki aturan tertulis untuk penggunanya ternyata masih saja bisa menjadi tempat yang nyaris digunakan untuk mengabaikan aturan yang pada akhirnya dijalan seseorang atau kelompok tersebut dapat berusaha membuat aturan sendiri-sendiri. Aturan yang berlaku adalah kekuatan. Kekuatan itu bukan hanya secara fisik atau ekonomi saja, kekuatan sosial atau people power juga mampu menjadi kekuatan yang dashyat dalam jalan raya (Gunawan,2000 : 29-30).

Jalan dipilih oleh sekelompok orang baik itu konvoi geng motor, partai atau supporter dan konvoi lainnya untuk menunjukan identitasnya karena mereka menganggap di jalan terdapat ruang kosong yang bisa dikuasai. Untuk menguasai ruang kosong itu orang-orang yang melakukan konvoi harus berebut kepentingan dan kekuasaan dengan pengendara lain dan hukum yang berlaku. Hal yang lebih tidak dinginkan lagi mereka bisa membuat aturan sendiri tanpa memperdulikan aturan lalulintas yang berlaku. Dalam perebutan kekuasaan itu menumbuhkan semacam people power untuk memenangkan perebutan kuasa itu. Bentuk kuasa dijalan tersebut terlihat saat konvoi memenuhi jalan dan mengambil hak pengguna jalan lain untuk melewatinya. Contoh lain misalnya, saat konvoi kampanye berlangsung. Bahasa rambu sama sekali tidak bermakna. Petugas lalu lintas yang pada hari-hari biasa selalu mengawasi pemakai jalan untuk memakai bahasa rambu tidak mampu lagi menjalankan tugasnya. Bahkan para petugas lalu lintas menyuruh peserta kampanye terus berjalan walaupun lampu pengatur lalu lintas sedang menyala merah (Gunawan, 2000 : 24).

Dengan adanya people power kelompok yang mampu menguasai jalan raya, maka identitas kelompok tersebut akan di akui oleh pengguna jalan yang lain atau masyarakat yang ada di sekitar jalan tersebut. Orang akan memberikan identitas berupa citra terhadap kelompok baik itu geng motor, konvoi supporter, parpol atau konvoi yang lainnya. Dalam pandangan Kenneth Boulding (1972 : 41-51 ed. Gunawan) menyatakan bahwa citra adalah sebuah bentuk pengetahuan subyektif. Dari sudut pandang individu, citra merupakan gabungan informasi dari pribadi individu serta pengetahuan budaya dari masyarakat atau public. Citra terbangun dari pengalaman pemilik citra itu sendiri. Salah satu bagian dari citra adalah sejarah terbentuknya citra itu sendiri, sebuah proses munculnya kesadaran tentang citra. Struktur kontruksi citra tidak hanya citra tentang “fakta” tetapi juga citra tentang “nilai”. Citra ini pada gilirannya mempengaruhi perilaku seseorang, karena manusia tidak hanya mempunyai kemampuan membentuk citra saja tetapi jika berbicara mengenai citra dan bertingkah laku sesuai dengan citra itu sendiri. Setiap masyarakat memiliki citra secara kolektif, sebuah pengetahuan budaya yang sama bagi sekelompok orang.

Sederhanya, pemahaman mengenai citra tersebut misalnya jika sekelompok orang berada dalam sebuah ruangan, maka mereka akan berpikir bahwa mereka berada di dalam ruangan yang sama dan memiliki pandangan yang sama. Ketika seseorang menempatkan diri sebagai sekelompok orang yang berkonvoi atas nama komunitas atau geng tertentu maka ia akan mengidentifikasikan karakteristik konvoinya saat di jalan raya. Dan orang lain akan menilai serta mencap sebuah identitas kelompok tersebut. Hal ini pada akhrinya para pelaku konvoi akan sukses membentuk citra yang ingin di bangun. Citra dan gaya hidup kolektif tersebut menjadi identitas para kelompok yang melakukan konvoi di jalan raya.

Salam,

Teras Sos

Sumber :

Gunawan, 2000. “ Siasat dan Kuasa di Jalan Raya” dalam P.M Laksana Permainan Tafsir. Yogyakarta: Insist Press.