Chapter 3 : Deteritorialisasi Keluarga Pemakai Smartphone | “Smartphone dan Keluarga Masa Kini”

Dinamika keluarga di dalam era deteritorialisasi menurut Irwan Abdullah (2006) muncul karena proses industrialisasi yang menjadi kekuatan penting selain memperkenalkan suatu pola organisasi produksi yang baru, juga memaksa penyesuaian-penyesuaian nilai dan norma di masyarakat. Hal ini  juga dapat memunculkan sebuah dinamika baru dan posisi baru di dalam sebuah keluarga dan hubunganya dengan masyarakat. Ada pergeseran sebuah tatanan dalam keluarga dari tatanan yang lama. Pergeseran ini menuju tatanan baru yakni suatu gaya yang baru yang muncul dalam masyarakat. Khususnya dalam hal tulisan Chapter 3 ini berupa rumah keluarga.

Dalam Cahpter 3 ini, pembahasan akan berbicara mengenai dinamika yang muncul dalam keluarga pemakai smartphone. Dinamika ini akan melihat hubungan yang terjadi di dalam keluarga masa kini yang telah mengalami deteritorialisasi. Ada dua pembahasan yang menarik berupa; 1) sosialisasi dalam keluarga pemakai smartphone, 2) interaksi dalam keluarga pemakai smartphone. Pertama, mengenai sosialisasi yang muncul dalam keluarga pemakai smartphone akan melihat bagaimana smartphone ditempatkan sebagai fungsi kontrol dan sumber baru bagi anak di dalam rumah keluarga. Kedua, akan berbicara mengenai interaksi yang muncul di dalam rumah keluarga pemakai smartphone dengan melihat adanya ruang elektronik yang menjadikan “amputasi sosial” secara tidak langsung didalam rumah keluarga.

B.3.1 Fungsi Kontrol dan Sumber Pengetahuan Baru bagi Anak

Dalam keluarga pemakai smartphone di perkotaan saat ini memiliki peran dan fungsi tersendiri. Dimana smartphone mampu menjadi fungsi kontrol dalam keluarga ketika di dalam rumah dan juga sebagai sumber baru bagi anak untuk mencari pengetahuan baru serta mencari pemecahan masalah yang di hadapi. Menurut Irwan Abdullah (2006) dalam era deteritorialisasi terjadi sebuah dekonstruksi (Next time, bahas Dekontruksi dalam Perspektif Jeques Derrida) social keluarga, pada saat anggota keluarga mulai terlibat dengan dunia luar batas lingkungan keluarga maka keluarga pada masa kini tidak bisa sepenuhnya dijadikan acuan sebagai sebuah tempat yang sejuk yang mampu memecahkan dengan baik setiap gejolak yang dialami oleh anggota-anggota keluarganya, tempat setiap anggota memenamkan kegelisahan social, karena keluarga merupakan sosok yang bijak yang dpat menerima segala kegalauan dan persoalan yang kemudian mentrentramkan.

Smartphone sebagai fungsi kontrol dalam setiap anggota keluarga ketika di rumah akan menjadi pembahasan pertama dalam chapter 3 ini.  Fungsi kontrol dalam keluarga yang dimaksud yakni adanya smartphone yang mampu mengontrol perilaku anggota keluarga dan smartphone sebagai fungsi kontrol orang tua terhadap anak mereka. Pertama, setiap anggota keluarga pemakai smartphone ketika di dalam rumah mereka ternyata memiliki waktu pemakaian tersendiri. Seperti ada jam-jam tertentu yang mengontrol kebiasaan mereka memegang smartphone yang dimilikinya. Smartphone mampu memberi rasa ikatan terhadap anggota keluarga suapaya dirinya menggunakan untuk hanya sekedar pelepas penat setelah kerja, mengisi waktu luang, berinteraksi dengan social media yang dimilikinya atau dalam bentuk apapun yang berkaitan dengan penggunaan smartphone.

Kedua smartphone yang digunakan oleh anggota keluarga khususnya orang tua dalam mengontrol anak mereka. Smartphone dapat mengubungkan orang tua dan anak ketika mereka tidak berada dalam ruang yang sama. Orang tua dapat memiliki akses supaya dirinya dapat emngetahui kondisi dan tempat dimana anak berada. Sehingga smartphone menjadikan sebuah “pengawas” bagi orang tua terhadap anaknya. Hal ini membuat anak lebih terpantau dan tidak membuat khawatir orang tua. Seperti misalnya menanyakan anak belum pulang sekolah, menanyakan anak sedang berpergian jauh dari rumah pergi kemana, mengetahui kondisi kesehatan anak, dan berbagai hal lainnya yang perlu diketahui oleh orang tua.

Dalam situasi lain, smartphone dalam anggota keluarga juga menjadi sumber pengetahuan baru dan pemecahan masalah, khususnya pada anak. Anak menggunkan smartphone yang dimilikinya mencari sumber-sumber baru yang di butuhkannya untuk mendapatkan apa yang anak inginkan. Menurut Irwan Abdullah (2006) meleburnya batas fisik yang secara tidak jelas mampu menggeser imanigasi kebudayaan yang mengalami keberlanjutan, paparnya saat ini dalam keluarga pembentukan dan penentu nilai tidak lagi hanya terletak pada orang tua saja tetapi juga pada institusi-institusi diluar keluarga, juga bisa terhadap media, teman sebaya, pendidikan bahkan sampai pasar.

Pergeseran seperti ini juga terjadi pada kondisi keluarga pemakai smartphone di perkotaaan. Dimana smartphone yang digunakan oelh anggota keluarga khususnya anak dijadikan sebagai wahana baru untuk “sharing” dan mencari pengetahuan baru bagi anak. Anak di dalam keluarga berusaha mencari sumber baru ketika anggota keluarga yang lain tidak bisa membantu apa yang di pertanyakannya. Seperti dalam mengerjakan tugas, dalam belajar, mencari informasi (tips-tips), dan melatih diri dalam bidang teknologi misalnya. Tak hanya sebatas itu, anak juga menggunakan smartphone untuk berkeluh kesah atas masalah yang sedang dihadapi dengan melakukan sharing dengan teman sebaya atau terkadang bahkan menulis di status media social yang dimilikinya. Dalam hal ini anak lebih memilih orang diluar keluarga. Dengan adanya smartphone tentunya membantu anak untuk bisa melkukan kontak dengan mudah untuk berkomunikasi dengan teman yang berada di luar rumah keluarga itu sendiri.

B.3.2 Amputasi Sosial dalam Rumah Keluarga

Dalam konteks interaksi yang muncul dalam sebuah keluarga pemakai smartphone, ternyata juga mengalami dinamika terhadap hubungan antar anggota keluarga. Smartphone mampu ditempatkan dalam rumah menjadi “pembatas” secara tidak langsung bagi angota keluarga itu sendiri. Anggota keluarga di dalam rumah mereka terkadang sibuk dengan smartphone yang dimilikinya. Baik itu oleh orang tua maupun oleh anak mereka. Hal itu terjadi ketika berada dirunag istirahat keluarga atau ruang tengah di dalam rumah mereka. Tak jarang setiap anggota keluarga meskipun sedang dalam keadaan menyatu tetapi ada perangkat smartphone yang juga masih digunakan. Sehingga seolah-olah orang lebih terfokus pada teknologi saat ini dalam dunia maya, dan sebagian besar waktu mereka lebih ingin tahu apa yang terjadi di lingkungan teknologi mereka, yang menyiratkan bahwa mereka tidak menempatkan waktu senggang kepada anggota keluarga mereka (Karin Romero, 2016).

Suasana keluarga yang muncul dalam anggota keluraga didalam rumah seperti mengalami sebuah “amputasi social”, hal ini dengan berkurangnya hubungan face to face secara substansial. Dalam artian anggota keluarga mengalami seperti lebih individualis. Meskipun hal tersebut tidak secara keseluruah membuat keluarga menjadi mengalami kematian. Hanya saja individualistis terkadang muncul saat dimana anggota keluarga sedang menggunakan smartphone yang mereka miliki masing-masing. Hal ini seperti ungkap beberapa informan yang mengalami kesamaan kondisi dimana anggota keluarga menjadi merasa “sendiri-sendiri” di dalam rumah ketika menggunakan smartphone. Kondisi ini muncul karena anggota keluarga sedang berkumpul dalam ruang keluarga tetapi ada smartphone di dalamnya sehingga memunculkan kasus kondisi anggota keluarga “duduk berjejer-jejer, tetapi main smartphone masing-masing” dan anggota keluarga yang kadang menggunakan smartphone di tempat yang biasanya di pakai bersantai di dalam rumah, seperti kamar, runag tengah, ruang tamu, dan yang lainnya. Secara tidak langsung ada sebuah dinamika yang berubah di dalam keluarga pemakai smartphone di perkotaan pada masa kini. Resiko terjadinya amputasi social ini terjadi karena adanya bentuk komunikasi tanpa-muka dan tanpa keterlibatan fisikal sehingga menghilangkan relasi-relasi yang telah kehilangan banyak afeksi psikologi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan pemenuhan kebutuhan hidupnya terhadap mesin-mesin cerdas dimana ketika itu pula sedang memasuki dunia yang beku tanpa makna dan tanpa muka (Hikmat Budiman, 2012).

Namun, disisi lain smartphone dalam rumah keluarga juga tidak secara mutlak menjadikan keluarga tersebut mengalami “amputasi social”. Smartphone juga memiliki peran penting dalam komunikasi sesama anggota keluarga. Smartphone mampu menghubungkan anggota keluarga ketika sedang berada saling berjauhan. Dan anggota keluarga masih tetap menjalani komunikasi secara baik di dalam ruang keluarga. Selain itu juga, melihat interaksi di luar rumah dimana lingkuan luar rumah keluarga, dalam hubungan keluarga dengan lingkungan sekitar anggota keluarga juga masih berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam artian disini orang-orang di sekitar juga ternyata memiliki group yang sama dalam smartphone mereka, seperti group pengajian, atau group ibu-ibu rumah tangga dilingkungan mereka. Sehingga interaksi yang ada dalam anggota keluarga dengan lingkungan sekitar juga masih terjalin baik secara face to face atau kontak dengan media berupa perangkat smartphone.

Chapter 1 : Deteritorialisasi Keluarga Pemakai Smartphone | Perspektif Arjun Appadurai

Chapter 2 : Deteritorialisasi Keluarga Pemakai Smartphone | Deteritorialisasi Ruang “Technospaces”

Sumber :

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offsets

Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta. Kanisius

Romero, Karin, dkk. 2016. Information and communication technologies impact on family relationship. Universidad Nacional de Colombia, Colombia