Chapter 2 : Deteritorialisasi Keluarga Pemakai Smartphone | Deteritorialisasi Ruang “Technospaces”

Menurut Appadurai (1996) globalisasi merupakanan arus yang bergerak melintasi batas-batas etnik dan negara. Arus global seperti media dan teknologi melintasi batas-batas itu melalui “-scapes” hingga mengubah pemahaman terhadap waktu, ruang dan identitas sebagai proses yang lebih cair, tidak teratur dan beragam. Dengan demikian budaya global menampilkan sifat tidak statis, menekan dimensi yang komparatis yang mengarah pada gagasan tentang kebudayaan sebagai perbedaan (differences), deteritorialisasi, dan disjuncture. Arus globalisasi yang dapat menyebabkan meleburnya batas-batas sebuah kebudayaan “deteritorialisasi” dapat dilihat dari lima terminology Arjun Appadurai; a)ethnospace, b)mediaspaces c)technospaces, d)financespaces dan e)ideospace.

Dengan adanya “-scapes” yang mampu menciptakan deteritorialisasi dalam sebuah kebudayaan, dalam analisis sebuah keluarga salah satunya melalui technospaces yang memiliki peran vital sehingga keluarga dapat mengakses dan melampaui batas yang tidak pernah di temukan oleh keluarga masa lalu sebelumnya. Technospaces yang bersifat materil dalam era global ini dengan terwujudnya perangkat-perangkat teknologi yang maju seperti salah satunya smartphone dan adanya akses internet di dalamnya. Sehingga pada keluarga masa kini, anggota keluarga dapat memasuki “scapes” dengan perangkat berupa teknologi smartphone. Adanya technospaces berupa media perangkat smartphone yang merupakan hasil dari kemajuan teknologi dan informasi di era global ini mampu menjadi kekuatan penting dalam institusi berupa keluarga. Dalam hal ini, analisis ruang baru dalam keluarga terbagi menjadi dua ranah pembahasan yakni; 1)ruang virtual dalam keluarga, 2)ruang konsumsi dan sebuah kebutuhan.

B.2.1 Ruang Virtual dalam Keluarga

Smartphone dan internet tidak bisa dipisahkan secara jauh, karena dua hal ini berkaitan satu sama lain. Smartphone jika tanpa adanya akses jaringan internet maka tidak akan bisa mengakses berabagi fitur yang tersedia dalam smartphone itu sendiri. Internet dalam smartphone menyediakan sebuah ruang baru yakni dunia virtual yang bersifat tidak nyata. Dalam artian ada dunia baru yang telah masuk di dalam smartphone. Dunia dimana orang-orang bisa berkumpul dan bertemu hanya dengan menggunakan smartphone yang dimilikinya. Smartphone menjadi wadah dan menunjang seseorang untuk bisa hadir tanpa adanya fisik yang terlihat. Tanpa adanya ruang tatap muka yang bersifat “face to face” secara langsung. Namun dengan seseorang dapat digantikan kehadiranya dengan berupa perangkat elektronik yang terkoneksi dengan internet secara berjauhan. Hal ini cukup dengan menggunakan smartphone aktifitas dan keberadaan seseorang bisa terlihat. Hal ini mengakibatkan di banyak kesempatan dalam sebuah ruang keluarga, penggunaan teknologi (smartphone) berlebihan membuat setiap anggota keluarga tinggal di “dunia baru”. Dunia dimana anggota keluarga memiliki komunikasi virtual dengan orang lain.

Dalam kasus keluarga pengguna smartphone, anggota-anggota keluarga mampu memasuki ruang baru bernama “ruang virtual”. Setiap anggota keluarga di dalam rumah keluarga memiliki social media berupa facebook, instagram, whatsapps, tiktok, bbm dan berbagai fitur yang lainya. Semua fitur-fitur yang ada di smartphone tersebut tentunya terhubung dengan jaringan internet. Seperti whatsapp misalnya, anggota-anggota keluarga memiliki group pertemanan baik itu teman sebaya di sekolah, rekan kerja di kantor, atau bahkan group alumni yang mana berisi orang-orang yang telah berpisah jauh dan mereka anggota keluarga jarang sekali untuk bertemu. Hal ini menjadikan orang-orang dalam rumah keluarga mereka melakukan kesepakatan dengan orang lain untuk terkoneksi satu sama lain melalui internet, hingga tentunya meletakan sebuah basis baru bagi terbentuknya lingkuan informasi baru (Hikmant Budiman, 2012). Anggota keluarga dalam rumah mereka bisa dengan mudah berselancar dengan ruang virtual ini untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak berada di dalam rumah kleluarga. Ruang virtual ini menjadi arena baru dalam keluarga sehingga anggota keluarga di dalam rumah mampu keluar dari territorial ruang rumah keluarga dan beralih ke ruang virtual. Territorial sebebuah keluarga sebagai institusi kecil dalam masyarakat menjadi melebur dan menjadikan anggota keluarga yang berada di dalam rumah tidak terikat secara sepenuhnya dari teritorial institusi kecil ketika berada di rumah.

B.2.2 Ruang Konsumsi dalam Keluarga

Tak hanya sebatas sebagai social media yang menghubungkan anggota keluarga dengan orang-orang yang jauh dari sisi mereka. Smartphone dalam keuarga juga menjadi alat “mainan” bagi anggota keluarga. Mainan disini dalam artian, smartphone digunakan oleh angota keluarga tidak hanya sekedar alat dengan fungsi dasar komunikasi saja. Namun ada fungsi lain yang bersifat menghibur dan menyenangkan bagi anggota keluarga. Ada ruang konsumsi “makna” dalam anggota keluarga pemakai smartphone. Menurut Baudrillard (2004) dalam bukunya masyarakat konsumsi di bab media masa, dan hiburan menjelaskan dalam kenyataan di masyarakat industrial sekarang ini gadget menjadi lambang masyarakat yang mengalami kemajuan, namun dalam kenyataan gadget di definisikan melalui kerja yang dimiliki seseorang, bukan darti tipe kegunaan maupun simbolis, tetapi sebagai “mainan”. Lalu mainan ini lah menjadikan hubungan seseorang dengan benda yang dipakai (gadget), yang mejadikan aktifitas bersiap penuh nafsu dan aktifitas mainan adalah sebuah konsumsi. Namun, dalam pandangan Appadurai (1996) konsumsi makna dalam era globalisasi telah melebihi ruang makna itu sendiri. Makna konsumsi terbentuk dengan adanya negosiasi dalam anggota keluarga untuk melakukan konsumsi terhadap adanya smartphone dalam keluarga. Sehingga makna konsumsi tidak hanya sebatas makna “mainan”.

Pertama, orang menggunakan smartphone tidak sebatas komunikasi. Hal ini berkaitan online shop, games, youtube, browshing informasi, dan yang lainnya. Anggota-anggota keluarga di dalam rumah melakukan kegiatan-kegiatan untuk mengisi kekosongan waktu dengan menggunakan smartphone yang dimilikinya untuk mengakses hal tersebut. Anggota keluarga merasa nyaman dan senang sehingga smartphone menjadi alat “penghibur” bagi anggota-anggota keluarga. Anggota keluarga mengkonsumi smartphone dari sisi kegunaan yang mereka lakukan. Hal yang sama juga di paparkan Karin Romero (2016) bahwa teknologi saat ini mempromosikan hiburan-hiburan dengan teman-teman dan anggota keluarga, mengingatkan seseorang bahwa lebih mudah menonton film, mencari resep, melakukan karaoke melalui media seperti YouTube dan media lain-lain yang ada dalam perangkat teknologi.

Kedua, adanya ketergantungan penggunaan smartphone yang digunakan setiap hari dalam anggota keluarga pemakai smartphone dalam aktivitas keseharian dirumah. Ketergantungan ini membuat anggota keluarga yang menyatakan ketika tidak ada smartphone di dalam dirinya seperti merasa kehilangan sebuah kebutuhan pokok mereka. Pernahkan kita tertinggal smartphone di rumah dan kita akan merasa panic ? Dan harus kembali untuk mengambil smartphonenya. Atau pernah kita jumpai , ada orang tua yang menegur anak kecil yang sedang bermain smartphone namun si anak menangis ? Ya tentunya karena smartphone secara tidak langsung membuat “candu” dalam diri seseorang.

Chapter 1 : Deteritorialisasi Keluarga Pemakai Smartphone | Perspektif Arjun Appadurai

Chapter 3 : Deteritorialisasi Keluarga Pemakai Smartphone | “Smartphone dan Keluarga Masa Kini”

Sumber :

Appadurai, Arjun. 1996. Modernity at Large: Cultural Dimensions of Globalizations. London. Public Works Publicatins

Bauidrillard, Jean P. 2004. Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta. Kreasi Wacana

Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta. Kanisius

Romero, Karin, dkk. 2016. Information and communication technologies impact on family relationship. Universidad Nacional de Colombia, Colombia