The Society of the Spectacle : Membangun Citra Diri dalam Ruang Publik

Sahabat Teras,

Apa saja sosial media yang kalian miliki dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari ? Sudah pasti banyak tentunya. Mulai dari twitter, facebook, whatsapp, instagram dan media yang lainnya. Begitu banyak orang di zaman modern seperti sekarang ini memiliki lebih dari satu sosial media yang digunakan dalam keseharian. Bukan main, hampir setiap orang bisa melakukan posting , instastory atau hanya ngesahre segala aktivitas. Mulai dari sekedar menyampaiakan opini, komentar, curahan hati, foto selfie, aktivitas olahraga, nge-mall, hangout dengan teman-teman, travelling, bahkan ada orang yang mampu memposting kegiatan keseharian dari bangun pagi sampai malam hari hingga orang itu akan tidur lagi. Bahkan lebih menariknya lagi, hampir  kebanyakan orang ketika bangun tidur langsung kembali membuka smartphone yang telah tersimpan didekatnya. Fenomena seperti ini tentunya sudah menjadi hal yang lazim kita jumpai. Orang hampir sudah tidak bisa lepas dari sosial media dan membuat konten untuk mengekspose dan menunjukan eksistensi dirinya. Hal inilah yang di sebut sebagai society of the spectacle, untuk membangun sebuah citra diri menunjukan eksistensi.

Eksistensi ? Ya, dalam konteks kekinian memang untuk bisa menunjukan eksistensi diri seseorang dengan mudah bisa mempertontonkan citra diri yang dimilikinya menggunakan sosial media. Hingga orang di sekitar bisa mengetahui keberadaan dan aktivitas yang sedang dilakukan. Dalam perspektif The Society of the Spectacle, yakni panggung yang dipertontonkan (tontonan masyarakat) karya seorang tokoh bernama Guy Ernest Debord berpandangan bahwa semua orang dengan bebas bisa mengkonsumsi tentang apa yang di pertontonkan mengenai berbagai fenomena-fenomena di dalam ruang public dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada batasan tentang siapa masyarakat dan hanya siapa saja yang boleh mempertontonkan citra dirinya dalam ruang public. Debort, sang pelopor pada awalnya membuat konsep ini sebagai bentuk kritik terhadap masyarakat modern kapitalis alias masyarakat tontonan. Bagi Debort, segala bentuk kehidupan manusia itu adalah akumulasi dari tontonan. Hal ini seperti apa yang disampaiakan Guy Debord ;

The concept of “the spectacle” interrelates and explains a wide range of seemingly unconnected phenomena. The apparent diversities and contrasts of these phenomena stem from the social organization of appearances, whose essential nature must itself be recognized. Considered in its own terms, the spectacle is an affirmation of appearances and an identification of all human social life with appearances. But a critique that grasps the spectacle’s essential character reveals it to be a visible negation of life-a negation that has taken on a visible form”  . (Guy Debord, 2014:13)

Disisi lain Guy Debord juga memaparkan bahwa konsep “tontonan” saling terkait dan menjelaskan berbagai fenomena yang kadang tampaknya tidak saling berhubungan. Sama halnya dengan ketika seseorang melakukan posting yang sebenarnya tidak ada korelasi yang tepat dengan hal yang ia lakukan, dengan alasan apapun itu. Namun hanya sekedar untuk menjunjukan citra diri dan mempertontonkan apa yang sebenarnya telah dilakukan tanpa mempertimbangkan orang  lain. Tanpa mempertimbangkan orang yang nanti akan membaca dan menonton story atau curahan (posting) yang ditulisnya di berbagai sosial media. Artinya memang pada zaman sekarang ini media sosial telah memberi ruang dengan menyediakan panggung yang baik untuk mewujudkan citra diri seseorang, namun di sisi lain juga mempertontonkan panggung yang kurang baik dalam masyarakat. Dengan hal inilah konsep Society of Spectacle mungkin akan kerap dikenal dengan pamer dan menunjukkan citra diri. Citra diri inilah yang nanti akan menunjukan ekistensi keberadaan kita. Baik citra dri yang positif maupun yang negatif.

Oleh sebab itu, sebenarnya apa yang kita tontonkan setiap harinya baik itu di instastoy, twitter, curahan facebook, story aktivitas di whatsapp, dan berbagai media yang lainnya telah menunjukan citra diri kalian untuk mendapatkan eksistensi ke seluruh masyarkat luas. Hal yang dilakukan sebenarnya sederhana namun sangat luar biasa bukan ? Dan perlu kita renungkan, cobalah untuk mempertontonkan citra diri dalam menunjukan eksistensi kita dengan hal-hal yang bermanfaat dan tidak merusak panggung yang sedang dinikmati oleh penonton di ruang publik ini. Buatlah tontonan yang tidak meresahkan atau bahkan mengganggu orang lain, namun buatlah tontonan di ruang public dengan hal yang indah dan layak untuk dipertontonkan.

Salam,

Teras Sos

Sumber:

Debord Guy. (2014). The Society Of The Spectacle. Canada. Bereau Of Public Secrets