Strategi dan Sikap Selektif Mengatasi Arus Globalisasi

Dalam rangka menghadapi arus globalisasi yang dapat mengancam eksistensi jati diri bangsa kita, tentunya kita perlu strategi dan sikap selektif dari komunitas tingkat lokal. Supaya Norma, nilai, tradisi, adat atau berbagai karakter bangsa yang ada di masyarakat tetap bisa dipertahankan dengan baik.

Sahabat teras, arus globalisasi yang menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia apabila kita siap dan mampu menghadapinya dengan baik tentu akan menjadi peluang yang sangat bagus dan menjadikan bangsa ini bisa bersaing di dunia Internasional. Mengingat kita punya segala potensi sumber daya yang memang dibutuh kan oleh masyarkaat dunia.

Baca juga : Globalisasi di Berbagai Aspek Bidang Kehidupan

Lalu, apa saja sih pembahasan mengenai strategi dan sikap selektif mengatasi arus globalisasi. Yuk simak penjelasan di bawah ini;

  1. Reaksi Komunitas Lokal terhadap Globalisasi

Sahabat teras, sebelum berbicara lebih jauh mengenau sikap dan strtagi menghadapi globalisasi marikita simak secara umum berbagai reaksi komunitas lokal dengan adanya globalisasi. Berikut adalah penjelasannya;

  1. Roland Robertson mencatat bahwa sebenarnya hal yang kita pilih dari hal-hal yang bersifat global hanyalah hal yang menyenangkan kita dan kemudian mengubahnya sehingga hal tersebut beradaptasi dan sesuai dengan budaya dan kebutuhan komunitas lokal. Ia menyebut ini sebagai “glokalisasi”, yaitu komunitas lokal menangkap pengaruh global dan mengubahnya menjadi sesuatu yang cocok dan dapat diterima oleh selera lokal.
  2. Kita dapat mencampur unsur-unsur global untuk menghasilkan penemuan baru dari hasil penggabungan itu misalnya, beberapa musik dunia mencampurkan beat tarian Barat dengan gaya tradisional dari Afrika Utara dan Asia. Cohen dan Kennedy menyebut ini sebagai “kreolisasi”.
  3. Komunikasi global berarti bahwa sekarang sulit bagi orang untuk tidak memikirkan dengan sungguh-sungguh kejadian-kejadian di dunia atau mengakui bahwa kita hidup di tengah- tengah dunia yang bercirikan “risiko”. Ini dapat menjadikan pelebaran identitas komunitas lokal, terutama jika memilih untuk memenangi sesuatu yang global berkenaan dengan isu- isu seperti lingkungan hidup atau pengurangan utang. Pilihan-pilihan semacam itu turut bertanggung jawab terhadap peningkatan gerakan antiglobalisasi terutama di kalangan anak muda.
  4. Pengetahuan kita tentang hal-hal global dapat meninggikan kesadaran dan kesetiaan kita terhadap hal-hal penting bagi komunitas lokal. Sebagai contoh, semakin menguatnya rasa keindonesiaan kita.
  5. Beberapa kelompok religius dan etnis berusaha mencegah terjadinya globalisasi karena mereka mengartikan hal tersebut sebagai sebuah bentuk penjajahan Barat atau serangan terhadap kemurnian budaya dan agama kepercayaan mereka.

  1. Sikap Selektif terhadap Globalisasi

Sikap selektif ini dibutuhkan sebagai sikap berhati-hati dalam memilah dan memilih pengaruh- pengaruh yang datang dari luar. Sikap arif dan bijaksana juga tidak kalah pentingnya, karena pengaruh dari globalisasi dapat bersifat negatif yaitu mengakibatkan masyarakat Indonesia menjadi materialistis serta memudarnya nilai-nilai solidaritas dan kecintaan terhadap tanah air. Oleh karena itu, sikap arif dan bijaksana tersebut harus dimiliki setiap masyarakat Indonesia untuk memperkuat jati diri bangsa. Di samping itu perlu adanya pembangunan moral bangsa yang mengedepankan nilai- nilai kejujuran, amanah, keteladanan, sportivitas, disiplin, etos kerja, gotong royong, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, dan tanggung jawab. Di samping itu, memperkokoh ketahanan budaya nasional dan pengutamaan nilai-nilai budaya juga perlu untuk menangkal penetrasi budaya asing yang akan masuk.

Baca juga : Dampak Globalisasi terhadap Perubahan Sosial di Tingkat Lokal atau Komunitas

  1. Menghadapi Tantangan Globalisasi

Menurut Selo Soemardjan, untuk menghadapi tantangan global, bangsa Indonesia membutuhkan unsur-unsur kepribadian sebagai berikut.

  1. Setiap individu harus mempunyai pengetahuan yang luas
  2. Harus mempunyai keahlian
  3. Mempunyai cita-cita hidup
  4. Memiliki rasa harga diri dan kepercayaan diri untuk ikut serta dalam tata masyarakat
  5. Memiliki kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara
  6. Berperilaku sesuai nilai-nilai sosial dan kaidah hukum
  7. Mempunyai kemampuan dan kebiasaan berpikir secara rasional

Menurut Talcott Parson, agar komunitas lokal dapat mengikuti perkembangan zaman, dan tetap mempertahankan jati diri bangsa, harus memperhatikan dan mempertahankan sistem-sistem sosial. Parsons menyebutkan ada empat fungsi penting yang mutlak dibutuhkan oleh sistem sosial (komunitas lokal), yaitu adaptasi (A), pencapaian tujuan atau goal attainment (G), integrasi (I), dan latensi (L). AGIL ini wajib dimiliki oleh setiap sistem (komunitas lokal) agar tetap bertahan dan jati diri bangsa tetap terjaga.

  1. Sebuah sistem dalam hal ini komunitas lokal diibaratkan sebagai makhluk hidup. Agar bisa bertahan mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Mereka harus mampu bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun, bahkan untuk kondisi yang tidak terduga.
  2. Pencapaian tujuan. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, sistem (komunitas lokal) harus memiliki arah yang jelas. Mereka harus bisa mengatur, menentukan, dan memiliki sumber daya untuk mencapai tujuan bersama
  3. Sistem harus mampu mengatur hubungan antarkomponen lainnya
  4. Dalam fungsi latensi, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara, dan memperbaiki pola-pola kultural yang menunjang motivasi

Sahabat Teras, demikian sedikit penjelasan mengenai strategi dan sikap dalam mengatasi globalisasi yang masuk dalam kehidupan masyarakat kita. Semoga sedikit bisa membantu pemahaman kalian semua yaaa….

Sumber :

Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2017. Sosiologi; Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial; untuk SMA/MA Kelas XII. Esis Erlangga. Jakarta